twitter  
Profil  

Jumat, 27 Februari 2026 | 13:17 wib
‘Satu Bayi, Satu Perawat’ : Upaya Tingkatkan Layanan Perawatan Neonatus
 

Dalam upaya meningkatkan layanan, RSIA Kendangsari Merr Surabaya berkerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menghadirkan pakar neonatologi (neonatolog) asal Singapura, yakni Clinical A/Prof Suresh Chandran, MD, MRCP, FRCPCH, FAMS. 

Dalam sesi sharing ilmu tentang perawatan bayi atau neonatus, Prof Suresh (sapaan akrabnya) menjelaskan tentang masalah yang dihadapi bayi-bayi yang lahir prematur misalnya sebelum usia kehamilan 26 minggu. Prof Suresh menegaskan tidak hanya keberlangsungan hidup mereka saja yang diprioritaskan, namun kualitas hidup mereka adalah hal utama. 

“Membuat mereka bertahan hidup bukanlah masalah besar saat ini. Bahkan bayi yang lahir pada usia kehamilan 23 minggu, delapan puluh persen akan bertahan hidup. Tetapi kualitas hidup, seperti yang berkaitan dengan paru-paru, jantung, usus, semuanya perlu perhatian”, kata Prof Suresh.

Prof Suresh juga mengingatkan pemberian ASI adalah solusi utamanya untuk pertumbuhan bayi, mencegah banyak masalah kesehatan yang dihadapi bayi saat ini. Di Singapura, pihaknya memiliki bank ASI yang dapat menyediakan 2.500 liter ASI setiap saat, bahkan jika dibutuhkan tengah malam.

“Jam 12, Anda hubungi saya, saya akan menyediakan ASI untuk Anda. Jadi yang saya katakan adalah itu adalah penyelamat. Jadi bagaimana cara mendapatkan penyelamat ini, kita perlu memiliki bank,” kata Prof Suresh.

 

Sementara dokter Dhimas Pandji Chondro, MH - Direktur RSIA Kendangsari Merr menambahkan bahwa RSIA Kendangsari Merr termasuk salah satu pionir di Surabaya yang menyediakan layanan NICU dengan single family room. Artinya layanan NICU dimana seorang ibu bisa ikut terlibat langsung dalam layanannya. Menurut dr. Dhimas dari hasil sharing, ada beberapa masukan untuk menyempurnakan layanan, salah satunya adalah terkait kecerahan ruangan, terkait kebisingan, dan juga beberapa ketenagaan dan alat-alat yang perlu disempurnakan. 

“Jadi mulai dari tingkat ruangan yang sangat ideal, dari tingkat kecahayaannya, tingkat kebisingannya, tenaga, yang one baby, one nurse, artinya satu bayi dengan satu perawat tidak boleh bergantian. Artinya kalau kita punya empat bayi maka empat perawat itu masing-masing tidak boleh memegang bayi yang sama. Dan seterusnya, jadi harapan ke depannya semua item yang mereka ajukan itu secara bertahap akan kami coba penuhi, sehingga ini bisa menjadi terdepan untuk Layanan NICU di Surabaya,” kata dr. Dhimas.

RSIA Kendangsari Merr berharap kedepan bisa memberikan seluruh layanan yang disampaikan oleh Prof. Suresh, serta menargetkan dalam estimasi waktu 2 tahun dapat dipenuhi. “Paling cepat 2 tahun, karena cukup mahal sumber daya yang harus kami penuhi. Jadi paling cepat untuk menuhi seluruh yang disampaikan tadi, estimasi kami dalam 2 tahun, artinya 2027 semuanya harus sudah selesai semua,” kata dr. Dhimas.

Disisi lain, Prof Dr. Eighty Mardiyan Kurniawati, dr., SpOG., Subsp. Urogin-RE Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Airlangga juga menambahkan bahwa menjadi sebuah institusi pendidikan harus berdampak. Bukan hanya untuk universitas saja tapi juga untuk masyarakat. 

“Kami berupaya untuk menjadi sebuah institusi pendidikan yang berdampak, yaitu dengan mengundang para pakar dari luar negeri yang nanti tidak hanya memberikan ilmu di institusi kami saja, tapi juga untuk masyarakat lebih luas lagi. Mudah-mudahan ilmu beliau tentang perawatan bayi ini bisa memberikan manfaat,” kata Prof Eighty.

 

(Yosan)