Vaksinasi HPV Usia Dini Tekan Resiko Kanker Serviks hingga 95 - 96 %
|
RS Manyar Medical Centre (RS MMC) Surabaya baru saja menggelar vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) untuk mendukung pencegahan kanker serviks. Vaksinasi diikuti oleh berbagai usia mulai remaja hingga wanita dewasa usia produktif dengan total sekitar 200 pendaftar pada hari Sabtu, 5 September 2026.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Henky Mohammad Masteryanto, Sp.OG, menjelaskan kepedulian terhadap pencegahan infeksi HPV dan kanker serviks menjadi salah satu perhatian bagi RS MMC. Dokter Hengky berpendapat kanker serviks menempati posisi kedua di Indonesia setelah kanker payudara, namun perbedaannya kanker serviks bisa dicegah dengan pemberian vaksin.
“Kita perlu ketahui bersama bahwa kanker serviks itu di Indonesia saat ini dia kasusnya nomor 2. Nomor 1 kanker payudara, nomor 2 kanker serviks, kanker mulut rahim. Kanker mulut rahim ini sebetulnya sampai saat ini baru bisa dikatakan satu-satunya kanker yang penyebutnya cukup jelas. Preventifnya, pencegahannya pun juga bisa cukup efektif,” kata dr. Hengky.
Kegiatan pemberian vaksinasi HPV yang digelar RS MMC Surabaya, kata dokter Hengky sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih memahami pentingnya pencegahan penyakit tersebut, terlebih pemerintah menargetkan tahun 2030 zero kasus kanker serviks di Indonesia.
“Sekarang kan ada program pemerintah untuk eliminasi kanker serviks. Harapannya adalah 0 kanker serviks pada 2030 sudah tercapai. Jadi 0 kasus baru,” kata dr. Hengky.
Dokter Hengky menekankan pentingnya melakukan vaksin HPV sejak dini, bahkan dimulai sejak usia 9 tahun. Karena menurutnya, semakin muda usia seseorang mendapatkan vaksin dan belum pernah berhubungan intim semakin besar proteksinya pada infeksi virus HPV penyebab kanker seviks.
|
“Kalau seorang wanita itu belum pernah berhubungan seksual. Sekarang kan mulai usia 9 tahun sudah bisa (vaksin). Jadi kalau belum pernah hubungan seksual proteksinya hingga 95-96%. Tapi kalau sudah hubungan seksual apakah proteksinya masih cukup besar? Ya, tapi tidak sebesar ini ya. Jadi sekitar 70-88% yang sudah pernah berhubungan,” jelas dr. Hengky.
Pemerintah kata dokter Hengky telah melakukan berbagai langkah pada program vaksinasi HPV terutama pada siswi perempuan usia sekolah mulai 9 tahun.
“Langkah pemerintah. Yang pertama vaksinasi HPV pada anak usia 9-15 tahun. Yang kedua screening teknologi tinggi. Jadi HPV DNA dan Papsmear itu pada usia diatas 15 tahun, sampai usia 65 tahun. Yang ketiga apabila ada kasus yang ditemukan. Harapannya 90% sudah tertangani dengan baik,” kata dr. Hengky.
Edukasi mengenai HPV juga diperlukan untuk mengurangi kesalahpahaman. Dokter Hengky berpesan masyarakat diharapkan dapat mengetahui faktor risiko, memahami pentingnya vaksinasi, serta menentukan langkah pemeriksaan kesehatan yang sesuai.
“Tujuannya adalah Vaksin HPV itu untuk memproteksi. Mencegah agar virus HPV ini. Yang masuk kasus baru. Tidak sampai menjadi kanker. Selain vaksinasi, konsultasi dengan dokter, dan terapkan gaya hidup yang mendukung kesehatan reproduksi, ini bisa menjadi bagian dari upaya pencegahan infeksi penyakit lebih lanjut,” pungkas dr. Hengky.
(Yosan)


