twitter  
Profil  

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:52 wib
Moelyono, Pelopor “Seni Rupa Penyadaran” Gelar Pameran Tunggal : Resisten
 
 

Seniman kelahiran Tulungagung, Jawa Timur, tahun 1957, yang terkenal sebagai pelopor “Seni Rupa Penyadaran” ini, menggelar pameran tunggal di Orasis Art Space, Surabaya yang dikuratori oleh Wicaksono Adi. Moelyono juga dikenal sebagai seniman dengan reputasi internasional yang pernah menggelar karyanya di berbagai event seni penting, baik di dalam negeri maupun luar negeri, antara lain Pacific Triennale Australia dan Museum of Contemporary Art Tokyo serta Gwangju Biennale di Korea Selatan. Karya-karyanya juga telah dikoleksi oleh beberapa museum di beberapa negara Eropa.

Moelyono menggelar dua karya seni instalasi, 8 buah lukisan dan 15 karya drawing bertema “Resisten”. Yaitu sikap atau kemampuan untuk bertahan, menolak dan bahkan melawan segala tekanan dalam bentuk apapun. Resistensi Moelyono dalam menjalankan praktik kesenian bersama masyarakat itu telah berlangsung empat puluh tahun lebih.

 
 

Setelah menyelesaikan pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, sejak awal dekade 1980 hingga saat ini, Moelyono aktif menjalankan seni “partisipatoris” yang memaknai seni rupa bukan lagi kata benda melainkan kata “kerja”, bahkan “kerja” sang seniman dalam masyarakat. Yakni seni untuk “penyadaran”, khususnya pendidikan bagi kaum pinggiran maupun mereka yang tertindas.

Bagi Moelyono salah satu tujuan seni adalah memberdayakan masyarakat dengan menggunakan pendidikan sebagai “path in”. Yaitu pintu masuk untuk mengubah konstruksi berpikir masyarakat sehingga pada gilirannya masyarakat dapat mentransformasikan dirinya guna memicu perubahan secara organik.
 
Hal itu dilakukan Moelyono di pedesaan Jawa, di Meulaboh (Aceh); Mataram (NTB), Atambua, Malaka, Kefa, Pulau Alor, Pulau Pura, Pulau Rote, Kupang, Waingapu, Sikka (NTT), Banggai, Poso,Tentena (Sulawesi), Ambon, Masohi-Pulau Seram (Maluku); Keerom, Sentani, Portnumbay, Wamena, wilayah Kurulu dan Kurima (Papua); Sungai Pinyu, Singkawang, Bengkayang, Sambas, Landak (Kalimantan Barat); juga di Pulau Nias (Sumut) dan Distrik Maliana (Timor Leste).

Dari praktik “seni penyadaran” tersebut Moelyono mengembangkan karya-karya seni rupanya. Sejak tahun 2017, Moelyono mendalami aspek sosial kesenian Ludruk. Ia intens berkolaborasi dengan grup ludruk Budhi Wijaya di Desa Ketapang Kuning, Jombang, Jawa Timur. Selain aneka cerita tradisi, grup ini juga banyak memainkan lakon tentang perlawanan rakyat. Kolaborasi Moelyono dengan kelompok Budhi Wijaya membuka kembali dialog di kalangan masyarakat desa tentang konflik sosial termasuk yang berakar pada masalah pertanahan, juga membuka diskursus tentang memori kelam tragedi 1965.

 
 

Dalam pameran di Yogyakarta tahun 2017, Moelyono membawa serta grup ludruk dari Jombang ini untuk menggelar pementasan. Kemudian dalam pameran di jakarta tahun 2025 ia kembali menggelar pementasan grup ludruk tersebut dengan lakon tentang masyarakat yang menolak sawahnya untuk dijadikan perkebunan tebu.

Kini, pada pameran di Orasis Art Space (hingga 25 November 2026), Moelyono tidak membuat pementasan ludruk Budhi Wijaya melainkan membuat seni instalasi bertajuk Geger Pabrik Gula. Selain ini ia juga membuat seni instalasi berupa dokumentasi visual seni lingkungan “Joko Budheg” yang dilakukan di puncak bukit daerah Tulungagung.

 

Selain itu Moelyono juga mengangkat problematika di tanah Papua. Yaitu simbol resistensi masyarakat Papua melalui noken atau tas rajut tradisional berisi babi. Noken itu adalah buatan Mama Lena yang tinggal di Wamena, Papua. Ketiga unsur tersebut disatukan dengan bingkai yang menyerupai “Salib Merah”. Perlu dicatat bahwa “Salib Merah” adalah salah satu ikon ekspresi gerakan perlawanan masyarakat Papua. Yakni perlawanan tanpa kekerasan berupa tanda larangan yang didirikan oleh masyarakat adat seperti suku Awyu, Wambon, Marind dan Yei, sebagai upaya melindungi dan mempertahankan tanah ulayat, hutan serta sungai dari ancaman ekspansi perkebunan kelapa sawit serta proyek strategis nasional.
 
Selain seni instalasi berupa jejak visual seni lingkungan “Joko Budheg” maupun seni instalasi bertema “Geger Pabrik Gula” yang menggunakan elemen kesenian ludruk, serta kisah Noken dan Salib Merah, dalam pameran ini Moelyono juga menampilkan 7 buah lukisan di atas kanvas berukuran 150 sentimeter hingga 199 sentimeter, serta 15 buah karya drawing di atas kertas berukuran 30 x 40 sentimeter dengan bingkai kaca.

Karya-karya lukisan maupun drawing menggambarkan sifat “resisten” yang dalam berbagai gestur maupun gerak-gerik yang terkait upaya bertahan hidup dan bahkan perlawanan orang-orang desa yang terpinggirkan. Yaitu sifat dan kemampuan mereka sebagai orang-orang meski yang kalah atau dikalahkan, namun tidak takluk.

(Press release)