twitter  
Profil  

Senin, 04 Agustus 2025 | 11:03 wib
Pekan Menyusui Sedunia, RSIA Kendangsari Ingatkan Pentingnya Rantai Menyusui
 
 

Memperingati Pekan Menyusui Sedunia yang diperingati setiap tahun pada minggu pertama bulan Agustus, RSIA Kendangsari Suabaya bersama AIMI Jatim mengajak Ibu - Ibu dan pasangan muda ngobrol seru seputar pentingnya menyusui dan pemberian asi eksklusif pada Sabtu 2 Agustus 2025.

Dokter spesialis anak Diana Amilia Susilo, sekaligus konsultan ASI dari RSIA Kendangsari memberikan penjelasan tentang rantai dukungan menyusui berawal di rumah sakit dan berlanjut di rumah. Menurut dr. Diana jika rumah sakit mendukung keberhasilan menyusui seorang ibu, mereka melakukan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui sebagai langkah yang terbukti bisa membawa ibu untuk bisa memberikan ASI secara efektif dan berhasil dalam target menyusuinya. 

"Dukungan itu dimulai dari rumah sakit, saat hamil kemudian melahirkan, kemudian pasca melahirkan, saat ibu konsultasi kembali atau kontrol gitu ya, itu yang rumah sakit. Kemudian di rumah dilanjutkan dukungan dari keluarga, pertama kali dari suami, kemudian keluarga, kemudian lingkungan sekitar. Jadi dukungan yang berkesinambungan itu mulai sejak ibu hamil kemudian melahirkan dan setelah melahirkan di rumah sakit dan di rumah orang tua," kata dr Diana.

 

Menurut dokter Diana rantai dukungan ini sangat penting mengingat ibu menyusui tidak bisa sendirian, banyak faktor yang mempengaruhi ibu menyusui. Misalnya dari fisik ibunya sendiri, kesehatan ibu dan bayi, kemudian tidak adanya dukungan dari lingkungan sekitar. 

"Tidak ada dukungan mulai dari rumah sakit, misalnya tenaga kesehatannya tidak melakukan skin to skin contact dari awal, tidak melakukan IMD kemudian tidak menjaga asi eksklusif dengan menambahkan susu formula padahal tidak ada indikasi medis, kemudian tidak memberikan edukasi kepada Ibu untuk bagaimana memposisikan melekatkan bayi, membiarkan Ibu setelah melahirkan tidak diberi penjelasan tentang misalnya dot, resiko penggunaan empeng dan dot dan tidak diminta untuk kontrol dilihat bagaimana menyusuinya. Dukungan itu bisa membuat ibunya menjadi tidak berhasil menyusuinya," kata dr Diana.

90% Ibu menyusui pasti memiliki masalah dalam proses menyusuinya jadi sebagian besar ibu pasti membutuhkan pendampingan. Dokter Diana juga menyampaikan yang menjadi isu sekarang ini adalah banyak informasi yang keliru tentang menyusui dan juga promosi dari produk pengganti ASI atau susu formula. 

"Tentunya mengganggu kepercayaan diri seorang ibu bisa memberikan ASI juga menganggap bahwa pengganti ASI itu bagus sehingga bisa dianggap menggantikan asinya. Isu yang kuat dan yang apalagi pasca covid ya, ini semakin mudah anak muda atau ibu - ibu sekarang ini beralih untuk memberikan susu formula tanpa ada indikasi medis. Itu karena marketing, marketing yang juga sangat masif," kata dr Diana

Pada peringatan Pekan Menyusui Dunia tahun ini, dokter Diana berpesan semua orang memiliki peran yang penting untuk bisa memberikan dukungan kepada ibu menyusui dan bayinya. 

 

"Siapapun kita yang berada dimanapun, bekerja dimanapun atau memiliki multi peran misalnya ya sebagai ibu, sebagai dokter, sebagai teman, sebagai pekerja di karyawan swasta. Itu semua memiliki peran dan jangan menganggap bahwa oh ini urusannya orang lain bukan urusan saya, ASI itu urusannya semua orang karena kita punya tujuan besar. Efek dari ASI itu bukan mikro, ibu dengan bayinya saja tapi efek lingkungannya juga, memang dari keluarga dulu, kemudian masyarakat, negara, bangsa, dan global. Seorang ibu yang memberikan ASI dia berkontribusi terhadap urban iklim, berkontribusi terhadap perekonomian bangsa dan negara," tutup dr Diana.

(Yosan)