twitter  
Profil  

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 07:05 wib
Perempuan Penggerak Ekonomi Biru : Tim Universitas Airlangga Dampingi Masyarakat Karimunjawa Praktik Budidaya Rumput Laut
 

Perempuan mengambil peran penting dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Airlangga. Melalui Skema Program Pengembangan Desa Binaan (PPDB), tim Universitas Airlangga melaksanakan pelatihan praktik budidaya rumput laut untuk masyarakat Karimunjawa sebagai upaya mengembangkan potensi ekonomi pesisir yang berkelanjutan.

Program pengabdian yang diketuai oleh Dr. Zuyyinna Choirunnisa, S.M., MS, dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga melibatkan sekitar 95 persen tim pengabdian perempuan berupa dosen, baik dari unsur dosen maupun mahasiswa. Kepemimpinan perempuan juga hadir dari sisi mitra dunia usaha melalui Dr. Yakuttinah Marjan dari Koperasi Jeeva, yang terlibat dalam penguatan aspek pemasaran dan keberlanjutan usaha masyarakat.

Kuatnya keterlibatan perempuan menjadi salah satu karakteristik penting program ini. Perempuan tidak hanya terlibat dalam kegiatan edukasi dan pendampingan, tetapi juga mengambil peran dalam membangun strategi pemberdayaan masyarakat, memperkuat jejaring dengan mitra usaha, serta mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi pesisir yang lebih berkelanjutan.

Program ini dilatarbelakangi oleh besarnya potensi kelautan Karimunjawa yang belum sepenuhnya dikembangkan menjadi sumber ekonomi alternatif bagi masyarakat. Sebelum program dilaksanakan, masyarakat pesisir belum memiliki kelompok yang secara formal mengembangkan budidaya rumput laut. Masyarakat juga menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan pengetahuan teknis budidaya, belum terbentuknya kelembagaan ekonomi produktif, ketidakpastian pasar hasil panen, hingga keterbatasan akses terhadap modal usaha.

Menurut Dr. Zuyyinna Choirunnisa, pemberdayaan masyarakat pesisir perlu dilakukan secara menyeluruh dan tidak cukup hanya melalui pelatihan teknis. “Pengembangan budidaya rumput laut harus dilihat sebagai satu ekosistem. Masyarakat perlu memiliki keterampilan produksi, kelembagaan yang kuat, kepastian pasar, sekaligus akses terhadap pembiayaan agar usaha yang dibangun dapat berkelanjutan,” ujarnya.

Belajar Langsung melalui Praktik Budidaya Rumput Laut

 
 

Dalam pelaksanaannya, tim pengabdian menggunakan pendekatan partisipatif dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama kegiatan. Rangkaian program diawali melalui koordinasi dengan Pemerintah Desa Karimunjawa, sosialisasi kepada masyarakat pesisir, serta diskusi kelompok terarah untuk mengidentifikasi potensi wilayah dan calon peserta.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan dan praktik langsung budidaya rumput laut menggunakan sistem long-line. Masyarakat memperoleh pendampingan mulai dari pemilihan bibit, teknik pengikatan bibit pada tali budidaya, pemasangan jalur budidaya di laut, hingga pemeliharaan dan persiapan proses panen.

Metode learning by doing menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Masyarakat tidak hanya memperoleh penjelasan secara teoritis, tetapi langsung mempraktikkan proses budidaya di perairan Karimunjawa. Dalam pelaksanaannya, warga turut terlibat dalam penentuan lokasi budidaya, penyediaan perahu dan tenaga kerja, hingga pemasangan jalur budidaya.

Melalui kegiatan tersebut, warga pesisir yang sebelumnya belum memiliki pengalaman budidaya laut mulai mampu melakukan tahapan dasar budidaya rumput laut. Program juga telah mendorong terbentuknya calon kelompok budidaya rumput laut sebagai embrio kelembagaan ekonomi produktif baru di Desa Karimunjawa.

Tidak Berhenti pada Budidaya, Tim Bangun Akses Pasar

 

Tim Universitas Airlangga menyadari bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan masyarakat dalam menghasilkan produk. Kepastian mengenai siapa yang akan membeli hasil panen menjadi faktor penting dalam membangun keberanian masyarakat untuk memulai dan mengembangkan usaha.

Untuk itu, tim menggandeng Koperasi Jeeva sebagai mitra pembeli atau offtaker. Koperasi Jeeva memiliki akses terhadap pasar ekspor rumput laut kering dan telah menyampaikan kesediaan awal untuk membeli hasil budidaya masyarakat Karimunjawa dengan harga yang wajar sesuai kondisi pasar, sepanjang produk memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan.

Standar mutu tersebut meliputi kadar air, kebersihan produk dari pasir maupun kotoran, serta konsistensi kualitas hasil panen. Dengan demikian, masyarakat sejak awal tidak hanya diajarkan bagaimana menghasilkan rumput laut, tetapi juga memahami kualitas produk yang dibutuhkan oleh pasar.

Dalam kemitraan tersebut, Dr. Yakuttinah Marjan dari Koperasi Jeeva memainkan peran penting dalam menjembatani hasil budidaya masyarakat dengan kebutuhan pasar.

Kolaborasi antara Dr. Zuyyinna Choirunnisa sebagai Ketua Tim Pengabdian dan Dr. Yakuttinah Marjan sebagai mitra koperasi sekaligus menunjukkan kuatnya kepemimpinan perempuan dalam membangun model pemberdayaan masyarakat yang menghubungkan pengetahuan, produksi, pasar, dan keberlanjutan usaha.

Membuka Akses Permodalan bagi Masyarakat

 

Selain kepastian pasar, program juga berupaya menjawab persoalan klasik yang kerap dihadapi pelaku usaha pemula, yaitu keterbatasan modal.

Tim pengabdian memfasilitasi komunikasi antara calon kelompok budidaya dengan lembaga perbankan untuk membuka akses terhadap kredit usaha kecil. Dalam skema yang tengah dikembangkan, Koperasi Jeeva tidak hanya berperan sebagai calon pembeli hasil panen, tetapi juga bersedia menjadi penjamin kredit bagi anggota kelompok budidaya.

Model tersebut dirancang untuk menjawab dua persoalan sekaligus, yakniketidakpastian pasar dan keterbatasan akses pembiayaa. Kepastian penyerapan hasil panen memberikan dasar ekonomi bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha, sementara akses pembiayaan diharapkan memungkinkan masyarakat meningkatkan skala budidaya secara bertahap.

Perempuan sebagai Penggerak Transformasi Ekonomi Pesisir

 
 

Dominasi perempuan dalam tim pengabdian menjadi nilai tambah tersendiri dalam program ini. Dengan sekitar 95 persen anggota tim merupakan perempuan, kegiatan ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pengembangan sektor ekonomi pesisir dan kelautan.

Perempuan dalam tim tidak hanya menjalankan fungsi administratif atau pendampingan sosial, tetapi terlibat langsung dalam kegiatan lapangan, pengembangan strategi, penguatan kelembagaan, pembangunan kemitraan dengan dunia usaha, hingga fasilitasi akses pembiayaan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak harus selalu ditempatkan sebagai program yang terpisah. Sebaliknya, kepemimpinan dan partisipasi perempuan dapat menjadi bagian integral dalam agenda yang lebih luas, termasuk pengembangan ekonomi biru, UMKM pesisir, inovasi, kewirausahaan, dan pembangunan ekonomi berbasis masyarakat.

Kolaborasi antara akademisi perempuan dan pemimpin perempuan dari dunia usaha juga memperlihatkan pentingnya jejaring lintas sektor dalam menciptakan dampak yang lebih berkelanjutan.

Menuju Usaha Rumput Laut yang Berkelanjutan

 

Tahap berikutnya dari program akan diarahkan pada implementasi budidaya yang lebih intensif, pelatihan penanganan pascapanen dan pengemasan sesuai standar mutu ekspor, penguatan legalitas kelompok, penyusunan perjanjian pembelian dengan Koperasi Jeeva, pembukaan akses kredit usaha, hingga penyusunan roadmap ekonomi biru Desa Karimunjawa.

Melalui program ini, Universitas Airlangga berupaya membangun model pengabdian masyarakat yang tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, melainkan menciptakan sebuah rantai pemberdayaan yang utuh mulai dari pengetahuan dan keterampilan, produksi, kelembagaan, akses pasar, hingga pembiayaan.

Praktik budidaya rumput laut di Karimunjawa dengan demikian tidak hanya menjadi kegiatan transfer pengetahuan dari perguruan tinggi kepada masyarakat. Program ini menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, masyarakat, pemerintah desa, koperasi, dan lembaga keuangan dalam membangun sumber ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.

Di tengah proses tersebut, kuatnya keterlibatan perempuan memberikan pesan tersendiri: perempuan dapat menjadi penggerak utama inovasi, pemberdayaan masyarakat, dan transformasi ekonomi pesisir menuju ekonomi biru yang inklusif dan berkelanjutan.

(Press release)