twitter  
Profil  

Sabtu, 26 Maret 2016 | 05:45 wib
Curhat Masih Jadi Pilihan Melegakan
Bila selama ini curhat dianggap jadi solusi untuk melegakan perasaan, ternyata tidak demikian menurut hasil penelitian.

Ajang curhat sesungguhnya membuat seseorang semakin tertekan dan stres karena membuat orang lain mengetahui kelemahannya. Menurut Brad J. Bushman, psikolog dari Ohio State University, bercerita tentang tekanan yang dihadapi kepada teman, bukan merupakan strategi yang efektif untuk siapa pun yang mencoba untuk mengatasi stres sehari-hari. ''Penelitian jelas menunjukkan bahwa bercerita atau berbagi kepada teman justru meningkatkan stres,'' kata Bushman.

Mengutip Live Science, studi ini menemukan, ada tiga strategi lain yang efektif bagi orang yang sedang stres yaitu: melakukan penerimaan, berhumor, dan melakukan positif reframing dari masalah yang dihadapi.

''Tidak ada gunanya merenungkan kegagalan, kemunduran, maupun sesutau yang menyeret seseorang terjatuh,'' kata penulis studi Dr Joachim Stoeber, seorang psikolog di University of Kent di Inggris. ''Sebaliknya, akan lebih bermanfaat untuk mencoba menerima apa yang terjadi, mencari aspek positif dan mencari sesuatu yang bisa menimbulkan tawa,'' saran Joachim.

Penelitian ini melibatkan 149 responden siswa Kent dengan sifat perfeksionis. Para responden menyelesaikan catatan laporan harian selama tiga sampai 14 hari. Mereka mencatat kegagalan yang paling mengganggu yang dialami setiap hari. Kemudian mereka juga diminta untuk menuliskan strategi apa yang digunakan untuk mengatasi kegagalan dan seberapa puas yang dirasakan pada akhirnya.

Strategi yang mereka gunakan diantaranya berbagi dengan teman, penggunaan narkoba, menyalahkan diri sendiri dan menarik diri. Dari jumlah tersebut, para peneliti menemukan bahwa penggunaan strategi-strategi tersebut justru membuat mereka merasa lebih buruk, bukannya lebih baik. Semakin banyak siswa menggunakan strategi ini untuk mengatasi, namun pada akhirnya mereka akan merasa kurang puas sendiri.

Sebaliknya, studi menemukan, semakin banyak siswa yang menggunakan reframing positif, penerimaan dan humor, semakin baik perasaan mereka pada akhirnya. Stoeber mencatat, fokus penelitian pada orang-orang yang memiliki kepribadian perfeksionis karena mereka umumnya kurang puas jika dibandingkan dengan orang lain, ketika mereka sedang mengalami kemunduran.

Fakta bahwa berbagi cerita dengan teman adalah cara yang gagal untuk mengatasi kegagalan mungkin tampak berlawanan dengan mereka yang telah diajarkan untuk berbagi perasaan negatif mereka dengan tujuan agar merasa lebih lega. Tapi hal itu justru benar-benar menciptakan lebih banyak stres karena itu membuat tingkat gairah, pikiran agresif meningkat akan aktif di memori, dan menghidupkan perasaan marah.

"Orang mengatakan bahwa berbagi cerita dengan teman terasa baik, tapi perasaan yang baik justru tidak berlangsung. Itu hanya memperkuat impuls agresif," kata Bushman kepada MyHealthNewsDaily.

Dia mengatakan kemarahan sering memicu agresi dan berbagi cerita dengan teman akan menimbulkan perilaku agresif, baik kepada sesama maupun benda mati. Alasan adanya pelampiasan dikaitkan dengan penyebab evolusi agresi pada manusia.

Stoeber mengatakan bahwa rekomendasi akan menolong siapapun yang mencoba untuk mengatasi kegagalan agar menemukan aspek positif dan memandang positif apapun yang dihadapi, serta lebih fokus pada apa yang telah dicapai. Berbagi cerita ke teman benar-benar dapat membuat perasaan lebih buruk tentang kegagalan atau kemunduran.