Andini Effendi : One is Definitely Not a Lonely Number
|
Andini pernah berpacaran selama sembilan tahun dengan seorang laki-laki. Dalam waktu selama itu, Andini mengikuti apa pun yang pacarnya inginkan, termasuk mengubur keinginannya untuk berkarier. Saat itu Andini pikir, tidak apa-apa cita-cita dan mimpi harus terhenti, asal dia tidak sendiri. Sampai akhirnya Andini bahwa dirinya adalah seorang perempuan yang punya mimpi dan cita-cita.
Lain cerita, suatu hari Andini putus dari salah satu pacar dan melewati masa berkabung sampai mata bengkak karena terlalu sering menangis. Berat badan Andini juga menurun drastis dan rasanya hari-hari berlalu tanpa makna. Dia membangun ekspektasi tinggi kepada pasangan. Dan tanpa dia menyadari, pasangannya sebenarnya tidak mengharapkan hal yang sama. Andini betul-betul patah hati.
Saat itu Andini berharap hubungan yang dijalani bisa diakhiri dengan baik-baik atau paling tidak dengan cara yang membuatnya mudah ‘move on’. Namun dia belajar, berharap mendapat ‘closure’ dari orang lain adalah salah satu hambatan terbesar dalam hidup. Dan akhir yang baik tidak bisa terjadi manakala emosi Andini sendiri masih tidak stabil.
Satu pelajaran hidup didapatkan Andini ketika dalam sebuah perjalanan ke Cape Town dari seorang perempuan paruh baya bernama Tante Ellen yang bercerita padanya bahwa ia sudah menikah selama 45 tahun. Hal pertama yang Tante Ellen share ke Andini adalah pernyataan, “Nikmati sepuasnya bisa ke mana–mana sendiri. Saat-saat di mana perempuan bisa egois itu enggak lama, lho. Kalau sudah menikah, kita enggak bisa pergi asal ngacir!”
Hal kedua yang Andini dapatkan dari Tante Ellen adalah pernyataan, “Menikah itu gampang, Andini. Tetapi menikah dengan laki-laki yang tepat adalah tantangan. Kamu jangan mau menikah dengan laki-laki setengah jadi.” Tante Ellen menjelaskan, “Perempuan kuat harus mendapatkan pasangan laki-laki yang mengayomi. Bukan laki-laki yang takut sama kita atau yang harus kita takuti, tetapi yang bisa menyeimbangan diri dengan kita. Posisinya mesti 50-50. Jadi santai saja, nanti juga kamu ketemu 50-nya kamu.”
Selain pernyataan-pernyataan dari Tante Ellen yang diingat Andini, dia juga mengingat satu pernyataan temannya yaitu hanya ada empat cinta bagi seorang perempuan : first love, true love, soulmate, and husband.
Cinta pertama Andini adalah ayahnya. Cinta sejatinya mungkin ialah mantan kekasih yang sampai saat ini mereka masih berteman baik. Bukan lagi relasi percintaan yang mesra, tetapi Andiri yakin mereka saling menyayangi sebagai teman dan saling menghargai satu sama lain. Dan soulmate adalah belahan jiwa, orang-orang yang terhubung dalam banyak hal dengannya. Baik tubuh, pikiran, dan jiwa. Sementara suami… well, until the day comes, where he waltzes into her life, Andini is a very content self-partnered lady.
Dia pun rasanya lupa, kapan terakhir kali dia meminta persetujuan orang lain untuk pergi ke suatu tempat. Andini juga tidak pernah repot untuk menentukan mau makan di mana dan kapan. Mau pilih red wine atau white wine, atau keduanya. Dan karena Andini sering ke mana-mana sendiri, mudah baginya untuk melakukan reservasi. Mau makan di restoran, ingin nonton Broadway, maupun saat cari tiket pesawat di musim liburan. Everything is accessible. As if the world is appreciating her single status!
“Because two for sure it’s a dream team, but one is definitely not a lonely number.” – Andini Effendi.
(Elle Indonesia)

