Fikom UKWMS Ajak Gen Z Kritis Baca Kebijakan Publik di Final KomFiest 2026
|
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya menggelar hari puncak kompetisi Komunikasi Fiesta 2026 di Auditorium Benedictus, Jumat (8/5). Sebagai pembuka rangkaian hari final, acara ini menghadirkan sesi talkshow eksklusif bertajuk "Beyond Green City: Menilai Realitas Tata Kelola Berkelanjutan" bersama jurnalis Tempo, Francisca Christy Rosana atau yang akrab disapa Cica.
Dalam sesi tersebut, Cica membedah bagaimana kebijakan tata kelola kota seringkali menyimpan realitas kompleks di lapangan. Ia mengapresiasi Gen Z yang saat ini sebenarnya sudah sangat melek politik dan berani mengkritisi isu sosial. Menurutnya, anak muda sudah memiliki modal keberanian yang kuat untuk mengawal kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat luas.
Namun, Cica memberikan catatan tajam bahwa daya kritis anak muda ini berbenturan dengan kondisi demokrasi yang sedang tidak baik-baik saja. Ia menyoroti fenomena swasensor di kalangan pekerja media sebagai tantangan nyata. Swasensor terjadi ketika jurnalis terpaksa melakukan sensor mandiri dan tidak berani menulis artikel kritis karena ketakutan akan diteror atau dituntut. Kondisi ini membuat kebebasan berpendapat terancam, sehingga jurnalis maupun masyarakat ragu untuk menyuarakan kebenaran secara gamblang.
"Anak muda itu sudah sangat aware dengan isu publik. Saya selalu berpesan, jangan takut bersuara karena penguasa justru paling takut pada anak muda yang bergerak. Namun, suara itu harus berbasis data dan argumen riset yang kuat agar tidak mudah dipatahkan," tegas Francisca Christy Rosana, jurnalis sekaligus host Bocor Alus Politik Tempo tersebut.
Sesi yang berlangsung secara interaktif di hari final ini juga menyoroti kondisi kebebasan berpendapat di Indonesia. Menurutnya, keberanian mahasiswa untuk mengadakan ruang diskusi yang blak-blakan namun tetap aman seperti di KomFiest 2026 ini menjadi alarm sekaligus langkah krusial untuk terus menjaga kesehatan demokrasi di lingkungan kampus.
Selaku moderator, dosen Fikom UKWMS, Merlina Maria Barbara Apul, melihat daya kritis peserta muncul saat mereka mulai memahami cara membaca kebijakan melalui kacamata jurnalisme. "Topik tata kelola kota mungkin terdengar berat, namun saat mereka diberikan akses informasi, mereka mulai mempertanyakan transparansi dan dampak jangka panjang dari sebuah kebijakan. Inilah tugas besar media dan jurnalisme; menjaga hak publik atas informasi yang jujur," ujar Merlina.
Dampak dari sesi ini dirasakan langsung oleh para mahasiswa. Monika Kimberly, mengaku lebih sadar bahwa kampanye lingkungan atau CSR tidak boleh hanya sekadar jargon untuk citra korporat, melainkan harus benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Sementara itu, dari sisi jurnalistik, Cantika Putri menekankan pentingnya validasi data lapangan. "Belajar dari pengalaman Kak Cica, saya sadar bahwa jurnalis tidak hanya sekadar wawancara, tapi harus turun berkali-kali ke lapangan untuk memastikan informasi tersebut valid dan layak disampaikan ke publik," ungkap Cantika.
Sesi diskusi ini berlangsung secara intens dan eksklusif, dihadiri oleh seluruh jajaran finalis nasional KomFiest 2026 serta perwakilan mahasiswa pilihan dari Fikom UKWMS. Forum terbatas ini sengaja dirancang untuk memastikan terciptanya ruang dialog yang mendalam dan kritis antara narasumber dengan para calon komunikator masa depan.
Hari Final KomFiest 2026 ini menjadi ajang pembuktian bagi para finalis kompetisi komunikasi tingkat nasional sebelum memasuki sesi Closing & Awarding yang akan digelar 9 Mei 2026. Melalui ajang ini, Fikom UKWMS berkomitmen mendorong peran aktif generasi muda dalam menata masa depan urban yang lebih inklusif sesuai target SDG 11.
Tentang KomFiest 2026
Komunikasi Fiesta merupakan kompetisi komunikasi bergengsi yang telah konsisten diselenggarakan selama 14 tahun oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Dengan mengusung tema "Sustainable Urban-Verse" yang berakar pada SDG poin 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), KomFiest 2026 menantang generasi muda untuk melihat kota sebagai ekosistem dinamis yang menghubungkan manusia, lingkungan, dan budaya. Melalui karya komunikasi yang kreatif dan edukatif, para delegasi muda didorong untuk menyuarakan solusi nyata demi terciptanya tatanan kota yang inklusif dan berkelanjutan.
(Press release)

