Program Makan Gratis Dimulai Bulan Ini, Ibu-Ibu Ada yang Senang, Ada yang Was-Was
|
Kabar baik buat ibu-ibu nih! Program makan bergizi gratis resmi dimulai Senin 6 Januari 2025. Program andalan Prabowo-Gibran ini akan dimulai di 190 titik seluruh wilayah Indonesia termasuk Jawa Timur.
Untuk Senin 6 Januari di wilayah Sidoarjo, total ada sekitar tiga ribuan porsi yang akan didistribusikan kepada para siswa sekolah terdiri sembilan sekolah dan satu posyandu. Pembagian makan siang bergizi gratis tersebut masih terbatas belum merata ke semua sekolah. Untuk Surabaya belum diberlakukan seperti Sidoarjo yang mulai 6 Januari lalu, dmana Eri Cahyadi Walikota Surabaya mengatakan Pemkot Surabaya siap mendukung program makanan bergizi dan mendorong keterlibatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam program makan bergizi gratis dengan melibatkan banyak pihak mulai UMKM permakanan.
Kabar baik ini tentu saja disambut gembira para orangtua murid, seperti Ika Yustina, ibunda dari Jasmine yang putrinya duduk di kelas V SD Buncitan-Sidoarjo mengaku senang tapi juga timbul kekhawatirkan karena anaknya termasuk picky eater sehingga ia selama ini terbiasa membawakan bekal ketimbang memberi uang jajan. “Saya berharap program ini bisa merubah selera makannya yang susah, apalagi makannya bareng temen-temannya mungkin bisa lebih lahap,” harapnya.
Anggie, ibunda dari Arka, siswa kelas 1 SD Kreatif Barata Jaya. Mengaku antusias jika nantinya program ini berjalan. “Selama hygiene makanan dan menunya sesuai standart kesehatan. Seperti menu sehat diterapkan tentu tidak masalah. Tapi kalau agak khawatir juga, takutnya ngga semua anak cocok,” jelasnya. Seperti anaknya, yang kata Anggie tidak bisa minum susu karena mempunyai alergi atau intolerant terhadap laktosa. “Pemerintah harus memikirkan lagi menu anak-anak yang alergi. Pihak sekolah juga turut pantau ketat untuk makanan gratis,” sarannya.
Kekhawatiran juga dirasakan Niken, ibunda dari Annisa, siswi Al-Azhar. “Agak was-was juga karena budget awalnya kan lima belas ribu, sekarang turun jadi sepuluh ribu. Dapat apa? Ditambah lagi, barang-barang naik semua,” katanya bertanya-tanya.
Menanggapi program makan di sekolah, Henry Asmoro penjual di daerah Kedungrukem, yang berjualan nasi goreng dan nasi uduk,di pagi hari, yang konsumennya kebanyakan ibu-ibu yang mencari sarapan, mengatakan meski di Surabaya memang belum diberlakukan dan belum merasakan dampaknya, namun Henry mengaku tidak khawatir kekurangan pembeli karena pelanggannya banyak juga orang kantoran dan ibu-ibu cari sarapan untuk anaknya yang belum masuk sekolah. “Nasi goreng ini, murah meriah hanya enam ribu sudah dapat seporsi nasi dengan toping telur, sosis dan bakso. Ngga masalah ada program itu, sudah ada pasarnya, ya” katanya.
(Manda)

