Sederhana, Ini Cara Stimulasi Dini Jadikan Anak Hebat
|
Anak hebat dimulai sejak dini artinya, pembentukan karakter dan potensi anak harus dimulai sejak usia sangat muda melalui kebiasaan-kebiasaan positif yang konsisten. Hal ini terungkap di seminar parenting "Stimulasi Dini, Ciptakan Anak Hebat," dalam rangka perayaan 2nd Anniversary My Hommy Plus bersama Irene F. Mongkar, pemrakarsa dan pemerhati pendidikan anak, Sabtu ( 23/8/ 2025).
Irene menjelaskan, perkembangan anak, dimulai dari tahapan gerak motorik meliputi kematangan otak. Tahapan motorik ini dimulai dari mengangkat kepala, tengkurap, duduk, merangkak, berjalan dan ini adalah tonggak perkembangan neurologis. “Bila tahapan terlewati atau terlambat, itu bisa menjadi tanda bahwa kematangan fungsi otak belum optimal,” jelasnya.
Ia memberi contoh bagaimana menstimulasi anak sejak dini meski belum bisa membaca maupun menulis. Caranya cukup sederhana, contohnya setiap kali berangkat dan menjemput sekolah melewati jalan yang sama, coba membaca tulisan yang muncul di sepanjang jalan. Mulai papan reklame, nama perusahaan, nama jalan dan lain sebagainya, “Lakukan itu berulang-ulang, entah anak itu memperhatikan atau tidak,” terangnya.
Hasilnya, suatu ketika anak tersebut lewat, tiba -tiba secara mengejutkan bisa secara spontan menyebut papan nama tersebut. “Sederhana namun anak akan terus mengingatnya,” terangnya.
|
Selain itu, cara memberi perhatian anak tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisinya saja, tidak cukup hanya memberi makan hanya leher ke bawah. “Tapi otaknya juga perlu asupan, caranya ajak anak ngobrol, ajak komunikasi !” tegasnya.
Menurut Irene, terlihat tanda- tanda anak cerdas, apalagi jika sering bertanya, sebab bukan anak yang pintar menjawab itu cerdas, justru anak yang banyak bertanya adalah anak yang cerdas. Irene juga membahas generasi sekarang yang disebutnya sebagai generasi instan, yang ingin kerja gampang, gaji tinggi menghasilkan uang banyak.
Hal ini kadang membuat miris karena kadang bisa menghilangkan rasa empati. Ini juga yang dijadikan dasar ketika memilih calon pekerja. Sebagai contoh antara pintar dan kerjasama, menurutnya jauh lebih baik memilh orang yang bisa kerjasama daripada pintar. “Memang idealnya dua-duanya, pintar dan bisa kerjasama tapi kalau harus memilih lebih baik orang yang pintar kerjasama, karena orang pintar biasanya susah diatur dan mau menang sendiri,” katanya.
Irene menekankan pentingnya menghormati tahapan alami tumbuh kembang anak tanpa memaksakan kemampuan yang belum sesuai usia, karena pemaksaan dapat berdampak negatif pada kesehatan mental anak. “Sebaiknya, fokus pada pemberian stimulasi yang menyenangkan melalui permainan, membangun komunikasi yang baik,” sarannya.
(Manda)


