twitter  
Profil  

Senin, 01 Juni 2026 | 11:01 wib
Dokter Peringatkan Tunda Kehamilan Terlalu Lama Bisa Persulit Punya Anak
 

Ibu, menunda kehamilan terlalu lama ternyata dapat meningkatkan risiko gangguan kesuburan hingga memperbesar risiko bagi ibu dan janin lho. Hal itu disampaikan Founder Klinik Asha IVF Indonesia, DR. dr. Amang Surya Priyanto, SpOG, F-MAS, dalam kegiatan Asha Open House : Celebrate Hope with Asha yang digelar di Waron Hospital, dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya ke-733.

 

Menurut dr. Amang, banyak pasangan menganggap usia muda masih memberi waktu yang panjang untuk menunda memiliki anak. Padahal, kualitas dan jumlah sel telur perempuan akan terus menurun seiring bertambahnya usia.

"Pada perempuan, semakin bertambah usia cadangan telur semakin turun, kualitas telur juga semakin turun. Jadi semakin bertambah usia itu tidak semakin baik, tapi semakin turun kualitasnya, semakin susah terapinya dan membutuhkan biaya yang jauh lebih besar," tuturnya di depan awak media, Minggu (31/5/2026).

Ia menjelaskan, perempuan berusia di atas 30 tahun perlu mulai mewaspadai kondisi yang dikenal sebagai fertility decline atau penurunan kemampuan reproduksi. Kondisi tersebut bisa terjadi pada usia 35 tahun, 40 tahun, bahkan lebih muda, tergantung kondisi masing-masing individu.

"Pasangan yang berencana menunda kehamilan disarankan tetap melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi sejak dini agar dapat mengetahui kondisi organ reproduksinya," himbaunya.

Yang menarik Bu, Asha IVF Indonesia menggelar program ini di tiga cabangnya, yakni Asha IVF Waron Hospital, Asha IVF PHC, dan Asha IVF Jaladri RSPAL Dr. Ramelan.

Dikatakan dr. Amang, tingginya kebutuhan layanan fertilitas terlihat dari antusiasme masyarakat. Dalam lima hari sejak pendaftaran dibuka, lebih dari 400 pasangan mendaftar untuk memperebutkan 170 slot pemeriksaan yang tersedia.

 
DR. dr. Amang Surya Priyanto, SpOG, F-MAS

"Saat ini ternyata pasangan yang ingin mendapatkan keturunan itu sangat banyak. Dan yang celakanya mereka tidak sadar bahwa pada dirinya, baik itu pada pasangan laki-laki maupun pasangan perempuan, itu mempunyai masalah," ujarnya.

Melalui program tersebut, peserta mendapatkan pemeriksaan kesuburan, konsultasi privat dengan dokter spesialis, pemeriksaan USG dasar, ringkasan hasil pemeriksaan, hingga rekomendasi program yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasangan. Nilai layanan yang diterima setiap peserta diperkirakan mencapai Rp1,2 juta.

Disampaikan dr. Amang, kegiatan ini bertujuan memberikan kesempatan kepada pasangan untuk melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan gangguan reproduksi yang menjadi penyebab sulitnya memperoleh keturunan.

"Melakukan pemeriksaan secara dini atau screening awal pada organ reproduksinya, baik laki-laki maupun perempuan, untuk bisa mendeteksi kira-kira masalah apa yang menyebabkan mereka mengalami gangguan mendapatkan keturunan," ucapnya.

Salah satu peserta, Sintia (28), warga Kecamatan Wiyung, Surabaya, mengaku terbantu dengan adanya program tersebut karena dapat mengetahui kondisi kesehatan reproduksinya secara langsung.

 
Sintia, salah satu peserta didampingi suaminya

"Saya senang banget, soalnya bisa tahu kondisi kesehatan rahim saya bagaimana dan apa yang harus saya lakukan setelah saya mengetahui hasil USG itu tadi. Prinsip saya siapa tahu saya bisa dapat rezeki (keturunan) karena mengikuti acara ini," ungkapnya ketika didampingi Rafi, sang suami.

Perlu diketahui, kegiatan open house tersebut dihadiri pula ahli obstetri dan ginekologi lainnya, yakni dr. M.Y.A. Widyanugraha, SpOG, Subsp. FER dan dr. Edwin Budipramana, M.Kes., SpOG.

Melalui program ini Bu, Asha IVF Indonesia berharap semakin banyak masyarakat memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dan tidak menunda konsultasi medis ketika mengalami kesulitan memperoleh keturunan. 

(Roni)