Suradaya - What Remains Unseen : Melihat Lebih Dekat Hal-hal yang Tidak Tampak Dalam Sebuah Gambar
|
Bagaimana sebuah kota direpresentasikan? Dan apa yang terjadi ketika kita melihat lebih dekat hal-hal yang tidak tampak dalam sebuah gambar? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi titik awal Suradaya – What Remains Unseen, sebuah program lintas budaya antara Indonesia, Jerman, dan Prancis yang didukung oleh Franco-German Cultural Fund. Proyek ini juga mencerminkan komitmen yang lebih luas untuk memperkuat kerja sama antara ketiga negara melalui bidang kebudayaan, pendidikan, mobilitas internasional, dan industri kreatif.
Mengusung tema “Fight Against Misinformation”, Suradaya mengajak masyarakat untuk mengamati, mempertanyakan, dan menelaah informasi visual secara kritis. Fotografi dan pendidikan visual memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta menghadapi disinformasi. Dalam konteks ini, fotografi tidak hanya berfungsi sebagai sarana dokumentasi, tetapi juga sebagai ruang untuk bertukar gagasan, bereksperimen, dan melakukan refleksi kritis.
Suradaya mempertemukan para peserta muda dan mentor dari Indonesia, Jerman, dan Perancis Melalui kolaborasi dengan Hochschule Hannover (Jerman), École nationale supérieure de la photographie (ENSP) Arles (Prancis), Universitas Airlangga, Universitas Kristen Petra, Melihat Bersama, Matanesia, dan Orasis Art Space. Kedua institusi pendidikan tinggi di Eropa tersebut dikenal sebagai institusi penting dalam pendidikan fotografi di Jerman dan Prancis. Kehadiran ENSP Arles, sebagai institusi yang secara khusus berfokus pada pendidikan fotografi, semakin memperkuat keterhubungan program ini dengan jaringan internasional dalam bidang penciptaan dan pertukaran karya fotografi.
|
Kolaborasi ini membuka peluang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara mentor dan mahasiswa, sekaligus menghadirkan kesempatan bagi penyelenggaraan pameran keliling di Indonesia, Prancis, dan Jerman. Program ini juga berkontribusi pada penguatan kerjasama Indonesia–Prancis di bidang kebudayaan, pendidikan, dan industri kreatif, sejalan dengan tujuan yang lebih luas dari kerangka kerjasama Borobudur. Melalui berbagai pertukaran tersebut, Suradaya berupaya membangun hubungan jangka panjang antara mahasiswa, peneliti, seniman, dan profesional di bidang kebudayaan dari Indonesia dan Eropa.
Program ini melibatkan 12 peserta dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam, yaitu Amadeus Mozes Wiratmoko, Anugra Pratama Rameli, Claudia Suciono, David Akbar Maulana, Jasper Hill (Jerman), Lowis Kassing (Jerman), Luvita Ardiona P., M. Ranau Alejandro, Patricia Chelsea, Salwa Al Kharamain, Sherly Aprilia, dan Tufail Rosyad Abdi. Selama program berlangsung, para peserta mendapatkan pendampingan langsung dari mentor profesional dari Indonesia dan Eropa yang memiliki pengalaman di bidang fotografi, jurnalistik, seni visual, media, dan kecerdasan artifisial (AI), yaitu Idealita Ismanto, Mamuk Ismuntoro, Kai Löffelbein(Hochschule Hannover), Clément Caignart (ENSP Arles), serta Jacob Vicari (Hochschule Hannover) yang bergabung secara daring.
|
|
Melalui tiga pendekatan, yaitu apa yang terlihat, apa yang hilang, dan apa yang mungkin terjadi, para peserta mengkaji secara kritis berbagai gambar yang telah membentuk persepsi terhadap Surabaya. Mereka kemudian melakukan proses penciptaan fotografi secara langsung di lapangan dengan berinteraksi bersama komunitas dan berbagai kelompok masyarakat. Program ini juga mengeksplorasi bagaimana praktik kreatif dapat merespons tantangan yang ditimbulkan oleh kecerdasan artifisial generatif dan peredaran gambar secara masif. Dalam program ini, AI dipandang sebagai alat kreatif dan spekulatif yang memungkinkan para peserta mempertanyakan kondisi saat ini sekaligus membayangkan berbagai kemungkinan masa depan.
Karya-karya yang dihasilkan kemudian dipresentasikan dalam pameran Suradaya – What Remains Unseen di Orasis Art Space, yang berlangsung pada 18–27 September 2026. Pameran ini mempertemukan karya fotografi dokumenter, materi arsip, serta karya yang dibuat melalui kecerdasan artifisial.
|
|
Melalui berbagai pendekatan tersebut, Suradaya menghadirkan Surabaya bukan semata-mata sebagai objek dokumentasi, melainkan sebagai ruang hidup yang dibentuk oleh beragam cerita, aktivitas, dan pengalaman. Pameran ini mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa sebuah kota selalu menyimpan lebih banyak cerita daripada yang dapat ditampilkan oleh satu gambar.
Di luar dimensi artistiknya, Suradaya juga bertujuan untuk memperdalam keterhubungan antara pendidikan tinggi, mobilitas internasional, fotografi, dan industri kreatif. Para mitra berupaya mengembangkan lebih lanjut pertukaran mahasiswa dan peneliti, termasuk di Jawa Timur, sekaligus mendukung pertumbuhan ekosistem industri kreatif di luar pusat-pusat kebudayaan utama di Indonesia.
Melalui fotografi, pendidikan, dan pertukaran internasional, Suradaya menunjukkan bagaimana kerja sama kebudayaan dapat menciptakan hubungan yang bermakna antara penciptaan artistik dan pemikiran kritis, sekaligus membuka ruang baru bagi dialog dan kolaborasi antara Indonesia, Jerman, dan Prancis.
(Press release & foto Deedee)






