twitter  
Profil  

Senin, 04 Mei 2026 | 11:53 wib
Kenalan Sama La Femina, Ibu - Ibu Komunitas Angklung Masa Kini
 

Ada yang menarik dalam acara Surabaya Toursim Award 2026 yang digelar di Ciputra World Surabaya, pada hari Sabtu, 2 Mei 2026. Puluhan ibu-ibu menunjukkan kepiawaian mereka diatas panggung dalam memainkan alat musik tradisional angklung. 

Komunitas Angklung asal Surabaya ini menamai diri mereka ‘La Femina’ yang artinya semua anggotanya adalah perempuan sekaligus seorang ibu yang juga bekerja di berbagai macam profesi. Beranggotakan 29 orang, La Femina berupaya terus melestarikan alat musik tradisonal agat tidak terkesan kuno. 

Prihyanti Lumbanraja, atau yang akrab disapa Yanti, sebagai pelatih sekaligus konduktor atau dirigen La Femina mengatakan jika pihaknya akan membawa angklung ke arah modern dengan mengikuti lagu-lagu masa kini. 

 
 

“Konotasinya itu kan lagu-lagu daerah terus ya. Tapi kita pengennya itu membuat Angklung ini menjadi lebih fresh. Jadi ada lagu daerah, ada lagu nasional, ada lagu mancanegara gitu. Kita sering bawakan kadang-kadang Korea, Jepang. Kekinian, kita kemarin baru bawakan lagunya Bruno Mars, Risk It All,” kata Yanti.

Bermain angklung harus mengikuti jaman, supaya alat musik tradisional ini juga disukai oleh generasi muda. Menurut Yanti memainkan angklung harus semenarik mungkin, agar semua  generasi dapat menikmatinya.

“Jadi harus fleksibel ya. Supaya Angklung ini dicintai anak-anak muda juga. Karena Angklung ini kan budaya asli Indonesia gitu. Kalau nggak kita yang mau melestarikan siapa lagi. Tapi harusnya memang dibuat semenarik mungkin,” kata Yanti. 

La Femina, kata Yanti baru 6 bulan terbentuk. Tepatnya sejak bulan November tahun 2025. Beranggotakan 29 ibu - ibu lintas profesi yang kompak dan solid sehingga menyajikan penampilan yang memukau meski mereka tidak punya banyak waktu untuk latihan.

 

“Ada notaris, dokter gigi. Ada dokter. Ada ibu rumah tangga juga. Pensiunan macam-macam. Telkom, Pelindo gitu. Jadi dari berbagai macam disiplin ilmu gitu. Lumayan kompak sih. Karena kita latihannya hanya bertemu satu atau dua kali. Masing-masing latihan di grupnya. Karena yang coaching juga saya kan di grup masing-masing. Jadi khusus untuk La Femina memang grup yang benar-benar siap tampil,” kata Yanti.

Yanti berpendapat menjadi group musik yang kompak kuncinya ada pada komitmen. Komitmen yang dimaksud adalah waktu yang diluangkan untuk latihan dan tampil. “Karena yang masuk ke La Femina itu harus komit ya. Komitmen kalau mereka memang nggak bisa harus mengundurkan diri. Jadi soal waktu, jangan membuat grup ini menjadi tergantung dengan satu atau dua orang. Kalau waktunya sering ga matching antar anggota ya harus legowo keluar,” pungkas Yanti.

(Yosan)